Rabu, 29 Agustus 2012
Cerminan diri, jangan panaskan hati..
Bicara tentang moral dan hati nurani, obrolan bersama kakek di pagi hari lebaran hari ke dua membuka mata dan menerima pikiran bahwa mereka menjadi para koruptor bukan sepenuhnya salah dari mereka, secara tidak langsung kita juga andil dalam menciptakan budaya toleransi terhadap mereka. Merasa tidak terima kah anda? Saya pun sebenarnya juga seperti anda sekalian. Namun pernahkah kita berpikir kawan? Andil kita dalam menciptakan hal tersebut? BUDAYA MENCONTEK! Iya itu, dimulai dari “korupsi” kecil-kecilan yaitu mencontek, secara tidak langsung menjadikan suatu budaya toleransi akan korupsi di kehidupan masyarakat kita. Uang jalan, pelicin, atau apalah namanya menjadi budaya yang sudah tidak dipermasalahkan lagi. Penerimaan pegawai ataupun siswa baru sudah menjadi rahasia umum menggunakan uang uang tersebut. Mental yang korup akan menjadikan pribadi yang korup juga. Pendidikan moral di awal usia mungkin bisa menjadi solusi untuk penanaman mental sehat anti korup. Menjadi cermin kawan, apa yang sudah kita lakukan selama ini. Masih belum terlambat untuk memperbaikinya. Dimulai dari mengurangi, kalau bisa menghapus tindakan perilaku korup untuk mencapai bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera tanpa korupsi(amin). Percuma kita berkoar anti korup tapi dalam kita masih juga melakukan. Usaha untuk kurangi dan hindari. JAYA INDONESIAKU
Merasa dunia tidak adil?
seorang yang menyebalkan? berpikirlah ulang tentang hal tersebut. terkadang orang yang sangat menyebalkan di kehidupan kita dahulu dapat menjadi idola kita sekarang. mungkin kita mengira bahwa dia akan menjadi anak yang tidak mempunyai masa depan karena kerjaanya hanya menyusahkan orang saja. mungkin kita akan berpikir betapa sedihnya orang tua mereka mempunyai anak seperti mereka. dan mungkin kita juga berpikir, bagaimana risihnya kawan dan sahabat yang selalu bersama dengannya. tapi tahukah kawan? janganlah terlalu cepat dalam mengambil suatu kesimpulan! simpanlah baik-baik prasangka burukmu atau kau akan merasakan pahitnya rasa ketidak adilan yang ditimbulkan oleh label mentah hasil pemikiran picik tanpa fakta mendalam!
Jumat, 24 Agustus 2012
Jangan salah menilai barang..
Mengenai barang.. barang itu merupakan suatu hal yang harus dijaga. Dimulai dari yang kecil seperti gunting kuku atau tusuk gigi hingga yang barang berharga tinggi seperti emas berlian atau uang. Nilai suatu barang misalkan barang A yang dahulunya lebih rendah dari barang B di saat biasa justru bisa melebihi nilai barang B di waktu tertentu. Misalkan harga air di gurun pasir, jika seseorang tersebut sudah kehausan, maka harga air yang dahulunya 4000 rupiah per botol menjadi 25000 per botol menjadi tidak masalah. Jika kita menyepelekan barang barang kecil, tentu kita akan kesulitan mencari barang tersebut ketika butuh. Dan ketika saat itu terjadi, rasa pertama yang muncul adalah rasa sesal mengapa kita tidak merawat barang tersebut dengan baik dan tak harus bersusah payah mencarinya. Sebelum hal itu terjadi kawan, jagalah barang-barang kalian sekecil apapun dan tempatkan pada tempatnya, terlebih lagi barang pemberian. Barang pemberian merupakan hal yang sangat bermakna bagi si pemberi jika si penerima bisa memakai dan menjaga barang tersebut dengan baik. Orang memberikan barang kepada kita dengan tujuan agar dipakai atau disimpan dengan baik. Dengan kita melakukan itu, sama kan dengan kita menghargai orang lain ?
Sudahkah kamu menghargai?
Menanggapi tentang bagaimana kamu menghargai seseorang. Bagaimana cara yang kamu lakukan untuk menghargai seseorang yang kamu sayang? Memberinya sesuatu yang mahal untuk dia? Berlaku seolah kamu melakukan pengorbanan yang besar untuk dia? Atau hanya ucapan lisan tanpa bukti? Jika kamu hanya melakukan pengorbanan yang besar atas dasar menurutmu saja, maka hal yang kamu lakukan hanya berlaku untuk dirimu saja. Tidak akan mengena di hati seorang yang kamu sayang. Sebenarnya bagaimana proses orang tersebut bisa merasa dihargai? Merasa dihargai itu ketika kita mendapati seseorang berlaku sesuai apa yang kita harapkan dan mereka melakukan hal tersebut untuk kita. Kita merasa ada orang yang rela melakukan hal tersebut sehingga kita merasa dihargai. Walaupun kita memberikan seseorang setumpuk coklat dan merasa kita sudah menghargai orang tersebut, itu tidak terlalu mengena di hati dia jika coklat itu bukan kemauan dari dia. Menghargai adalah rela berkorban untuk melakukan apa yang dia mau, bukan pengorbanan yang berasal dari taksiran kita. So, dengarkanlah baik baik kata dia. Dan yakinlah, selama itu mempunyai tujuan yang baik, walaupun itu sangat memberatkan untukmu, rela berkorban untuk orang tersayang lebih beharga dari keberatan kamu
lakukan dengan MAKSIMAL, bukan sekuat tenaga!
Menanggapi pernyataan tentang maksimal, berbeda dengan sekuat tenaga. Apa bedanya? Maksimal adalah mengerjakan dengan seluruh kekuatan kita hingga kita tidak bisa melakukan apa yang inginkan. Berbeda dengan sekuat tenaga. Kembali ke masalah toleransi. Ketika kita mengucapkan “ aku sudah berusaha sekuat tenaga.” Itu bukan berarti maksimal. Sekuat tenaga adalah ukuran kita yang dapat kita toleransi semau kita. Entah itu 10% atau 20% atau batasan sesuai dengan toleransi dari kekuatan yang kita bisa. Berbeda dengan maksimal, maksimal adalah mengerahkan 100% kekuatan kita hingga kita tidak bisa melakukanya lagi. Jadi kawan, ingatlah, kerjakan sesuatu secara maksimal, bukan dengan sekuat tenaga? Dan percayalah, hasil yang kamu dapat akan sesuai dengan pengorbanan dan kerja keras jika Tuhan menghendaki. Dan jika hasil itu tidak tercapai juga? Tuhan punya rencana lain untuk kita.
renungilah kesalahan!
Berbicara tentang kesalahan, kesalahan dibuat karena ketidak mampuan, atau ketidak sungguh sungguhan seseorang untuk mendapatkan apa yang dia mau. Yah contoh seorang murid yang ga bisa lulus di tes itu karena dia tidak mampu atau karena dia kurang bersungguh sungguh dalam belajar?. Dalam menyikapi kesalahan, orang butuh dorongan keras untuk memperbaiki. Entah itu dari diri sendiri, orang lain ataupun keadaan. Seperti aku saat ini, kesalahan yang ebenanya bisa aku atasi dengan mudah, tapi karena menyalahgunakan kesalahan ini, justru kesalahan ini harus dibayar dengan mahal. Ketika kau menyepelekan kesalahan kecilmu, disanalah kau memulai kesalahan besarmu. Kerjakan semua hal dengan maksimal dengan toleransi yang ketat agar hasil kerja dapat maksimal. Jika ingin sukses, kerjakan dengan sepenuh hati, jangan setengah-setengah. Apalagi menoleransi kesalahan secara berlebihan. Percayalah, hasilnya tidak akan baik.
Hatimu sesak akan kenyataan hidup?
Ketika kau merasa hampa akan hidupmu, disanalah kamu akan belajarmenghargai hidupmu. Cobalah untuk memikirkan bagaimana jika semua nikmatmu dicabut? Atau salah satu saja dicabut? Kau akan merasa sangat kehilangan. Kau tahu kawan? Tak selamanya kenyataan akan berjalan speerti yang kita harapkan. Layaknya bermain pinball, kita hanya bisa mengarahkan arah bola menuju tempat yang kita inginkan dengan menarik tuas kiri dan tuas kanan, menggetarkan meja pinball. Tapi tentang kemana bola itu akan melaju, ada banyak faktor yang menentukan arah bola itu akan sampai atau tidak.. permukaan meja, timingkita melakukan aksi, juga faktor luck yang sangat berpengaruh. So kawan, kita hanya bisa berusaha dengan sekuat tenaga dan believe if we can do it. Kita juga harus berkomitmen untuk melakukan hal itu with all your guts. Tentang hasil, GODs turn.
